request-free-img

Jenis-Jenis Pemeriksaan Tanda Vital dan Cara Melakukannya

Pemeriksaan tanda vital merupakan bagian penting dalam layanan keperawatan. Tanda vital digunakan untuk menilai kondisi awal pasien, memantau perubahan, serta mendeteksi risiko atau gangguan kesehatan sejak dini. Perawat harus memahami cara melakukan pemeriksaan tanda vital dengan benar agar data yang diperoleh akurat dan dapat digunakan untuk menentukan tindakan keperawatan selanjutnya. Artikel ini membahas berbagai jenis pemeriksaan tanda vital beserta langkah-langkah dasarnya.

1. Suhu Tubuh (Body Temperature)

Suhu tubuh menunjukkan keseimbangan antara produksi panas dan pengeluarannya dari tubuh.

Cara Pemeriksaan:

  • Gunakan termometer digital atau infrared
  • Tempat pengukuran: oral, aksila (ketiak), rektal, atau timpani (telinga)
  • Pastikan pasien tidak minum minuman panas/dingin 15 menit sebelum pemeriksaan
  • Catat hasil dan bandingkan dengan rentang normal

Rentang Normal:

36,5°C – 37,5°C (dewasa)

2. Nadi (Pulse)

Denyut nadi menggambarkan fungsi jantung serta aliran darah ke seluruh tubuh.

Cara Pemeriksaan:

  • Gunakan jari telunjuk dan jari tengah (bukan ibu jari)
  • Letakkan pada arteri radialis (pergelangan tangan), karotis, atau dorsalis pedis
  • Hitung denyut selama 30 detik lalu kalikan dua, atau langsung 60 detik untuk hasil lebih akurat
  • Perhatikan irama, kekuatan, dan kestabilan denyut

Rentang Normal:

60–100 kali/menit (dewasa)

3. Pernapasan (Respiratory Rate)

Laju pernapasan menunjukkan seberapa sering seseorang bernapas dalam satu menit.

Cara Pemeriksaan:

  • Amati gerakan dada atau perut secara visual
  • Hitung frekuensi napas 60 detik tanpa sepengetahuan pasien agar hasil lebih alami
  • Perhatikan ritme, kedalaman, dan kesulitannya (dyspnea, takipnea, bradipnea)

Rentang Normal:

12–20 kali/menit (dewasa)

4. Tekanan Darah (Blood Pressure)

Tekanan darah mengukur kekuatan darah terhadap dinding arteri.

Cara Pemeriksaan:

  • Gunakan tensimeter manual atau digital
  • Pastikan pasien duduk tenang minimal 5 menit
  • Pasang manset setinggi lengan atas, sejajar jantung
  • Bila menggunakan tensimeter manual:
    • Cari titik nadi brakialis
    • Pompa manset 20–30 mmHg di atas tekanan nadi
    • Lepas perlahan sambil mendengarkan bunyi Korotkoff
  • Catat hasil sistolik dan diastolik

Rentang Normal:

< 120/80 mmHg (dewasa)

5. Saturasi Oksigen (SpO₂)

Saturasi oksigen mengukur kadar oksigen yang terikat hemoglobin dalam darah.

Cara Pemeriksaan:

  • Gunakan pulse oximeter pada ujung jari atau daun telinga
  • Pastikan tangan tidak dingin dan tidak ada cat kuku
  • Tunggu nilai stabil sebelum dicatat

Rentang Normal:

95% – 100%

6. Tinggi dan Berat Badan

Meskipun tidak selalu masuk dalam tanda vital, pengukuran ini penting untuk menentukan status gizi dan kebutuhan cairan.

Cara Pemeriksaan:

  • Gunakan timbangan digital dan microtoise
  • Pastikan pakaian minimal dan tanpa alas kaki
  • Hitung Indeks Massa Tubuh (IMT) untuk menilai status gizi

Pentingnya Ketelitian dalam Pemeriksaan Tanda Vital

Pemeriksaan tanda vital harus dilakukan dengan teliti karena hasilnya sangat memengaruhi keputusan medis. Data yang akurat membantu perawat mendeteksi perubahan kondisi kesehatan, menilai efektivitas tindakan, dan mengidentifikasi kondisi kritis sejak dini. Konsistensi dalam pemeriksaan juga penting untuk memantau perkembangan kesehatan pasien dari waktu ke waktu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *